aku duduk berdua dalam keramaian
kuteguk kanan kiri sekitar, dan
dan kami tertunduk menghadap beton
kami diam dalam keramaian
jiwa kini makin lamban
kutulis sebuah sajak diatas papan
sajak tentang jiwa yang kaku
aku baca sjaknya
ia baca sajakku
aku menangis
ia menangis
dan kini aku mengerti dia
dia juga mengerti aku
kupegang erat tanganya
kuajak ia berlari untuk pergi dari keramaian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar